Kamis, 08 Mei 2014

Seberkas Catatan 3 Tahun Yang Lalu



Selamanya aku akan selalu memuji dan menyembah Allah-ku. Dia yang memberikan jalan yang tak pernah ditinggalkan oleh-Nya, dan tak ada satu hari pun kulalui tanpa-Nya. Sungguh aku mempunyai Allah yang setia, yang selalu menyertai dan menjaga setiap perjalanan hidupku. Tak terasa, sudah 21 tahun aku berdiam di dunia yang penuh dengan pelajaran ini. Dunia yang selalu mengajarkan tentang banyak hal, mengasihi, mencintai, menyayangi, dan menyakiti, dunia yang selalu dikerumuni oleh berbagai hal yang ada, tentang kekerasan, sakit hati, dan masalah-masalah yang bertubi-tubi. Tapi, semuanya itu bisa ku lalui hingga sampai saat ini, dan itu semua bukan karena kekuatanku untuk menghadapi semua itu, tapi karena ada campur tangan Tuhan, kuasa Tuhan yang selalu ada untukku.
Dan kini, setelah 4 tahun aku mengejar ilmu di perguruan tinggi, UNIMA, kini ku merasa berbahagia, mempunyai Allah yang selalu dan selalu menyertai akan setiap tahapan demi tahapan yang ku tempui selama masa studi. 15 Desember 2011 adalah tanda dimana impianku untuk mencapai gelar kesarjanaanku bisa berhasil, dan bisa membahagiakan setiap impian yang didambakan oleh orang yang mencintaiku dan menyayangiku. Sukacita yang terpancar di hari itu membuat semua merasa bahagia, dan tak mudah bagi setiap orang untuk mencapai hal tersebut, harus membutuhkan perjuangan yang lebih, dalam giat belajar, rajin mengikuti perkuliahan, dan memahami bahan perkuliahan, dan tentunya tidak lupa mengandalkan kuasa Tuhan. Ora et labora adalah kalimat yang selalu ku pegang ketika ku memasuki lahan perkuliahan yang mempunyai banyak sekali orang-orang yang menakjubkan, yang mempunyai berbagai keterampilan dalam bekerja dan keahlian dalam bertindak maupun berpikir.
Dimulai ketika Roh Kudus bekerja dalam kedua orangtuaku, yang secara langsung memintaku untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, diriku merasa senang namun bercampur sedih, karena melihat kondisi keuangan keluargaku yang saat itu benar-benar kritis dan ujung ambang kehancuran karena dampak perkenomian saat itu. Namun, karena aku tidak bisa mengecewakan kedua orangtuaku, aku pun bangkit dari ketidaktulusanku untuk melanjutkan studi dan berniat untuk mengikuti saran orangtua dan mencoba serta berusaha keras dalam mencapai keinginan mereka. Tak terasa ketika ujian masuk dimulai, aku meminta doa kepada orangtua untuk selalu mendoakanku agar bisa mencapai keinginan mereka, dan ternyata doa orangtua selalu saja terkabulkan. Hingga pengurusan administrasi perkuliahan pun, kami diselimuti dengan kuasa dari Tuhan. Dan ketika perkuliahan dimulai, ternyata ada begitu banyak cobaan yang terus mendatangiku, setiap cobaan yang mencoba untuk menggagalkan rencana kedepanku, dan hal itu terjadi begitu saja, aku mulai menikmati indahnya masa muda dan mulai lupa dengan harapan dari orangtua, mulai dari malas mengikuti perkuliahan, hingga pembuatan tugas, dan ketika ujian semester dimulai, aku tersadar, dan berusaha bangun kembali, namun ternyata semester awal ketika ujian berakhir dan menerima hasil semester, nilaiku begitu rendah bahkan dibawah rata-rata. Saat itu aku tidak terkejut atas nilai yang kudapati, karena aku sadar akan perbuatanku yang membuat nilaiku begitu rendah. Di semester berikut aku mencoba untuk lebih berkonsentrasi dengan perkuliahanku, dan hasilnya cukup memuaskan, nilaiku naik, naik dan bertahan disitu. Aku bahagia dan merasa puas dengan perjuanganku selama bangun dari jatuhnya diriku atas kemalasan yang selalu menimpaku. Dan saat semua mata kuliah selesai dikontrak, aku pun berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, hingga saat magang kerja guru, hanya rasa guguplah yang terus menyelimutiku di hari pertama mengajar, dan seterusnya merasa santai dengan kepastian penuh percaya diri yang tinggi. Dan ternyata hasilnya memuaskan. Sangat memuaskan bagiku. Setiap ujian pun diselesaikan dengan satu persatu dan tiba saatnya hari wisuda. Ketika aku mengenakan akan toga dan pakaiannnya, aku sangat bahagia, sempat ada tetesan air mata bahagia dan haru melintas di pipiku. Ku lihat kedua orangtuaku yang juga bahagia melihat anaknya lulus dengan tepat waktu, memeluk diriku dengan perasaan bangga, dan sesaat suasana pun menjadi indah. Saat masuk di ruang wisuda, dengan mata yang berkaca-kaca ku lihat kedua orangtuaku yang memandangku dengan senyuman bangga, jelas sekali kulihat wajah mereka yang saat itu seperti melihat sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya, namun mengena di hati dan bahagia karena melihat tersebut. Tentu saja mereke merasa bahagia, seketika aku naik ke panggung, menerima ijasah yang diberikan oleh Dekan, dan berjabat tangan dengan Rektor, seketika aku melambaikan tangan, tanda terima kasihku untuk mereka.
Kini aku yang telah dianugerahi gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) yang ku tempuh selama 4 tahun, dan dengan bangga ku menyandang gelar tersebut dan bersiap untuk memulai hidupku dengan mengajar, memberi pengarahan kepada orang-orang yang membutuhkan setiap pertolongan dalam memahami apa artinya suatu pelajaran dan memahami maksud dari isi pemikiran setiap orang di dunia ini.
Aku berjanji, aku akan selalu memberikan jasaku pada setiap orang yang membutuhkanku, dan kepada setiap orang ingin belajar bersamaku, dan aku siap untuk melangkahkan kakiku untuk berpacu dalam mempertanggungjawabkan pendidikan di Indonesia. Karena aku, anak negeri yang menjunjung tinggi pendidikan, yang selalu mengembangkan setiap ilmu pengetahuan yang kumiliki, untuk diwariskan kepada anak cucuku nanti.
Terima kasih Yesus
Terima kasih Papa & Mama
Terima kasih Adik-adik
Terima kasih kekasihku
Terima kasih almamaterku
Terima kasih semuanya